PERGAULAN & SEKS BEBAS DIKALANGAN PELAJAR DIKABUPATEN WONOGIRI







MAKALAH

PERGAULAN & SEKS BEBAS DIKALANGAN PELAJAR

 DIKABUPATEN WONOGIRI

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan

 

Dosen Pembimbing Pancasila dan Kewarganegaraan :

Henike Primawanti, S.IP., M.I.Pol

 

Disusun Oleh :

DITA RIFQI ARIPRABOWO

NIM : 44321054

 

 



 

 

 

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

BANDUNG

2022




KATA PENGANTAR 


            Dengan memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Pergaulan & Seks Bebas di Kalang Pelajar di Kabupaten Wonogiri”

            Kami menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari berbagai kesalahan,untuk itu dalam kesempatan ini kami mengucapkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada Teman-teman. Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya.

            Namun, demikian kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya kami dengan rendah hati dan dengan terbuka menerima masukan, saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.

            Akhirnya kami ucapkan terima kasih, Wassalamualaikum Wr. Wb




DAFTAR ISI

 

BAB I 3

PENDAHULUAN.. 3

1.1 Latar Belakang. 3

1.2 Rumusan Masalah. 3

1.3 Tujuan. 3

1.4 Manfaat 3

BAB II 3

PEMBAHASAN.. 3

2.1 Pengertian Pergaulan Bebas dan Seks Bebas. 3

2.2 Kronologis Kasus Perilaku Seks Bebas Pelajar Kabupaten Wonogiri 3

2.3 Faktor Penyebab Pergaulan Bebas yang Dilakukan Pelajar Kabupaten Wonogiri 3

2.4 Dampak Pergaulan Bebas yang Dilakukan Pelajar Kabupaten Wonogiri 3

2.5 Tindakan Preventif untuk Mencegah Adanya Munculnya Kasus Pergaulan Bebas. 3

2.6 Hubungan Perilaku Pergaulan Bebas dengan Nilai-Nilai Pancasila. 3

BAB III 3

PENUTUP. 3

3.1 Kesimpulan. 3

3.2 Saran 




BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

            Tidak sedikit remaja Indonesia pernah mengalami masa-masa kelam. Penyebab tiap remaja mungkin berbeda, tetapi semuanya berakar dari penyebab utama, yaitu kurangnya pegangan hidup, seperti agama dan ketidakstabilan emosi yang disertai sekaligus rasa ingin tahu yang tinggi. Hal tersebut menyebabkan perilaku yang tidak terkendali, seperti pergaulan bebas yang melewati batas, misalnya seks bebas. Permasalahan itu merupakan tugas semua elemen bangsa tanpa kecuali. Generasi muda harus diselamatkan agar generasi muda bangsa Indonesia lebih bermoral. Semuanya itu untuk kebaikan diri sendiri dan negara di masa depan.

            Pergaulan bebas identik dengan pergaulan remaja yang menyimpang dan biasanya mengarah kepada perbuatan seks. Di zaman yang semakin berkembang maka semakin beragam pula tingkah laku serta masalah sosial yang terjadi di masyarakat, terutama masalah kenakalan remaja. Sekarang ini, perkembangan teknologi telah  banyak  memberi  pengaruh  buruk  bagi  remaja  sehingga   menyebabkan terjadinya kenakalan remaja. Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-maslah (Hurlock, dalam Roy, 2011). Dari tahun ke tahun kasus seks bebas di negeri ini sangat memperhatinkan. Banyak dari mahasiswa dan pelajar sudah ter- jerumus pada hal yang negatif. Banyak orang tua yang cen- derung membatasi anak-anaknya dari dunia luar dengan tujuan menjauhkan dari kemungkinan terkena pergaulan bebas, tetapi cara ini juga dapat menjadikan anak menjadi individu yang antisosial. (Umar Sidik,2017)

            Di awal bulan februari 2022 terdapat kasus prilaku seks bebas yang mengejutkan masyarakat di Kabupaten Wonogiri dengan adanya praktik seks bebas yang dilakukan oleh sejumlah pelajar siswa Sekolah Menengah Pertama. Berdasarkan kasus ini banyak sekali masyarakat memberikan asumsi bahwa pergaulan bebas perlu  penanganan  yang  serius  karena  hal  ini merupakan hal yang sangat penting demi masa depan pelajar yag lebih baik. Perilaku menyimpang yang terjadi hanya akan membawa banyak dampak buruk jika tidak ditangani karena akan semakin banyak masalah yang timbul dari adanya pergaulan bebas di kalangan pelajar. Mengingat pelajar merupakan agen pembaharu maka pelajar perlu mendapatkan edukasi tentang masalah pergaulan bebas yang bertujuan agar tidak terjadi penyimpangan. Melihat fenomena yang telah dipaparkan di atas maka ada dua hal yang menjadi permasalahan yaitu penyebab munculnya pergaulan bebas di kalangan pelajar serta dampak pergaualan  bebas  di kalangan  perlajar.

1.2 Rumusan Masalah

1.     Apa yang meyebabkan munculnya pergaulan bebas di kalangan pelajar di kabupaten Wonogiri?

2.     Bagaiamana Dampak pergaualan bebas di kalangan perlajar di kabupaten Wonogiri?

3.     Bagaimana tindakan preventif yang bisa dilakukan pihak sekolah, keluarga, dan pemerintah untuk mencegah terjerumusnya parasiswa dengan adanya munculnya kasus pergaulan bebas?

4.     Keterkaitan Hubungan prilaku seks bebas dengan nilai-nilai Pancasila.

 

1.3 Tujuan

            Berdasarkan fokus penelitian, maka tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk menganalisis Hubungan Seks Bebas di Kalangan Parapelajar SMP di Kabupaten Wonogiri. Secara Khusus penelitian ini bertujuan untuk menganalisis:

1.     Penyebab Pelajar SMP di Kabupaten Wonogiri melakukan hubungan seks bebas

2.     Dampak yang Pelajar SMP di Kabupaten Wonogiri akibat melakukan hubungan seks bebas.

3.     Keterkaitan Hubungan prilaku seks bebas dengan nilai-nilai Pancasila.

 

1.4 Manfaat

            Manfaatnya dari penelitian ini agar kita sama-sama mengetahui bahwa pentingnya kita mengetahui seks bebas dikalangan remaja yang meraja lela , pentingnya kita sebagai remaja menerapkan nilai-nilai pancasila.




BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Pengertian Pergaulan Bebas dan Seks Bebas

            Pengertian pergaulan merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dan individu, dapat juga oleh individu dan kelompok. Seperti yang dikemukkan oleh Aristoteles bahwa manusia sebagai makhluk sosial (zoon-politicon), yang artinya manusia sebagai makhluk sosial yang tidak lepas dari kebersa-maan dengan manusia lain. Sementara itu, bebas ialah terlepas dari kewajiban, aturan, tuntutan, etika agama serta etika kesusila-an. Pada pergaulan bebas yang perlu dijauhi oleh setiap masyarakat. Usia remaja lebih mudah dipengaruhi serta belum bisa tahu baik atau tidaknya perbuatan yang bersifat positif atau negatif. Para ahli pendidikan mengatakan bahwa pada usia remaja berkisar 13 tahun hingga 18 tahun, mereka sudah tidak lagi dikatakan sebagai anak-anak, tetapi belum dikatakan sebagai dewasa. Masa remaja menjadi hal yang masih sangat labil atau sedang mencari jati diri. Era globalisasi ini para remaja harus diselamatkan karena banyak kebebasan di segala aspek. Banyak kebudayaan asing yang datang dan melanggar kebudayaan yang mempunyai norma, seperti seks bebas tidak cocok untuk kebudayaan kita. Para remaja sangat mudah terpengaruhi oleh provokasi teman-teman yang bergaul di luar batas atau bisa disebut sebagai pergaulan bebas

            Menurut Desmita (2012) dalam YT Muskita, menjelaskan bahwa yang dimaksud perilaku seks bebas adalah segala cara mengekspresikan dan melepaskan dorongan seksual yang berasal dari kematangan organ seksual, seperti berkencan intim, bercumbu, sampai melakukan kontak seksual yang dinilai tidak sesuai dengan norma. Sedangkan menurut Anang Haris Himawan (2007: 43) Free sex atau seks bebas adalah sebuah model berhubungan seks yang dilakukan secara bebas tanpa dibatasai oleh aturan-aturan serta tujuan yang jelas. Sebagaimana kedua pendapat di atas, Sidik Hasan dan Abu Nasma (2008: 28) menyatakan bahwa seks bebas adalah hubungan seks (kelamin) yang dilakukan sekehendak hati tanpa adanya ikatan perkawinan dan tanpa memperhatikan norma-norma susila

            Berdasarkan penjabaran beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian seks bebas adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual terhadap lawan jenis maupun sesama jenis yang dilakukan sekehendak hati tanpa adanya ikatan perkawinan dan tanpa dibatasi oleh aturan-aturan serta tujuan yang jelas.

2.2 Kronologis Kasus Perilaku Seks Bebas Pelajar Kabupaten Wonogiri

            Perilaku seks bebas ini benar-benar membuat semua mengelus dada.  Bunga (bukan nama sebenarnya), 14, asal Kecamatan Jatiroto diketahui menjalani hubungan khusus dengan sejumlah anak di bawah umur. Bahkan, siswi SMP itu hingga nekat melakukan hubungan seks dengan tujuh bocah di bawah umur yang berasal dari dua kecamatan di Wonogiri. Sekcam sekaligus Ketua Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Jatiroto Miran mengatakan, kejadian itu terkuak karena kecurigaan para anggota karang taruna desa yang sering melihat Bunga keluar malam dan pulang hingga dini hari.

            “Pernah ditanya sama karang taruna desa ke mana (perginya Bunga), jawabnya main. Tapi karena karang taruna curiga, akhirnya dipantau,” ujar Miran saat ditemui di wilayah Jatiroto, Senin (7/2). Hingga pada akhir pekan lalu, pihak karang taruna kembali menanyakan ke mana perginya Bunga hingga pulang larut malam. Bunga tetap saja menjawab bahwa dia baru saja pulang dari bermain. Tak percaya begitu saja, karang taruna pun mendesak Bunga. Hingga akhirnya siswi SMP itu mengakui pernah melakukan hubungan seks dengan teman laki-lakinya. Setelah itu, Bunga pun menyebut tujuh bocah yang pernah melakukan hubungan seks dengannya. Lima di antaranya berasal dari Kecamatan Jatiroto, dan dua lainnya dari Kecamatan Jatisrono. Umurnya antara 15 dan 16 tahun. Miran menuturkan, hal itu langsung dilaporkan ke satgas di tingkat desa dan diteruskan hingga tingkat kecamatan. Seluruh anak yang diduga terlibat persetubuhan itu dihadirkan. Bersama dengan tokoh masyarakat, satgas desa, satgas kecamatan, unsur kepolisian, karang taruna, dan orang tua masing-masing bocah kemudian digelar dilaksanakan forum mediasi yang digelar rumah kepala dusun setempat.

            “Itu kan tidak diketahui secara langsung, menceritakan yang sudah terjadi sebelumnya. Anak-anaknya juga hadir. Setelah dikroscek mengaku semuanya. Dan mereka semua masih di bawah umur,” terang Miran. Lebih lanjut diungkapkan Miran, kejadian itu akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan. Sebab, peristiwa hubungan badan antara Bunga dengan tujuh bocah laki-laki itu tidak dipergoki secara langsung. Kasus itu pun tidak dipolisikan karena buktinya hanya sebatas pengakuan. Meski begitu akan dilakukan pembinaan dan pendampingan psikologis kepada anak-anak tersebut. Karang taruna setempat mengusulkan pembinaan agar ada efek jera. Pihaknya juga bakal berkoordinasi dengan pihak sekolah dan berkonsultasi dengan dinas terkait. 

2.3 Faktor Penyebab Pergaulan Bebas yang Dilakukan Pelajar Kabupaten Wonogiri

            Faktor Penyebab pergaualan bebas yang dilakukan oleh pelajar Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Wonogiri adalah sebagai berikut :

1.     Kualitas diri remaja pelajar itu sendiri seperti, perkembanggan emosional yang tidak sehat, mengalami hambatan dalam pergaulan sehat, kurang mendalami norma agama, ketidak mampuan menggunakan waktu luang.

2.     Rendahnya taraf pendidikan keluarga, seperti keluarga yang mengizinkan sang anak Pergi keluar rumah sendirian pada malam hari tanpa ada pengawasan yang menyebabkan anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

3.     kesalahan dalam pemanfaatan teknologi berdampak pada pergeseran budaya dan penyimpangan, hal ini tidak lagi dipedulikan, perilaku seks bebas, gaya berpacaran yang salah, Banyak remaja yang beranggapan bahwa perwujudan cinta dan rasa sayang diungkapkan dengan menyerahkan jiwa dan raga kepada lawan jenisnya.

4.     Pengaruh media sosial, salah satunya anak diberikan Handphone tanpa ada pengawasan dari orangtua. Orangtua tidak memberikan penjelasan tentang manfat dan kerugian dari media sosial, sehingga mereka dengan mudahnya mengakses hal-hal negatif melalui Handphone tersebut.

5.     Rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahui.

6.     Kurangnya pendidikan agama di rumah, anak tidak diarahkan kepada hal-hal yang lebih menekankan pada pola pendidikan agama di rumah.

7.     Faktor lingkungan, lingkungan juga memiliki peranan yang cukup besar dalam membuat remaja terjebak pada seks bebas

2.4 Dampak Pergaulan Bebas yang Dilakukan Pelajar Kabupaten Wonogiri

            Adapun Dampak  Pergaulan bebas yang dialami oleh Pelajar SMP di Kabupaten Wonogiri ini secara umum dapat diklafisikasikan ke dalam dua bagian, yaitu:

1.     Dampak Pribadi

            Perasaan menyesal, merasa berdosa, merasa hina dan kehilangan masa depan menyelimuti mereka. Pada saat seseorang sudah mengalami hal tersebut, secara psikologi kejiwaan mereka sudah dalam kondisi gangguan berat. Rasa benci terhadap diri sendiri merupakan gejala psikologi yang sangat susah disembuhkan. Dampak dari gejala psikologi ini sangat membahayakan.

2.     Dampak Sosial

            Selain konsekuensi pribadi, siswi yang melakukan hubungan seks bebas ini juga tidak terlepas dari konsekuensi sosial. Diantara konsekuensi sosial yang dialami mereka adalah berupa dikucilkan oleh teman-teman yang berada di sekitar mereka. Bahkan tidak jarang ada juga teman-teman yang mengejek-ngejek mereka karena apa yang telah mereka perbuat.

            Adapun Dampak seks bebas yang dilakukan oleh Pelajar SMP di Kabupaten Wonogiri yaitu :

1.     Hamil di luar nikah

            Hamil di luar nikah akan sangat menimbulkan masalah bagi pelajar sebagai pelaku seks bebas. Salah satu masalahnya adalah Pihak sekolah akan mengeluarkan si pelaku jika ketahuan peserta didiknya ada yang hamil.

2.     Aborsi dan bunuh diri

            Terjadinya hamil di luar nikah akan menutup jalan pikiran si pelaku, guna menutupi aib ataupun mencari jalan keluar agar tidak merusak nama baik dirinya dan keluarganya hal tersebut dapat berujung pada pembunuhan janin melalui aborsi bahkan bunuh diri.

3.     Terjangkit penyakit

            Mudah terjangkit penyakit HIV/AIDS serta penyakit-penyakit kelamin yang mematikan, seperti penyakit herpes dan kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat.

2.5 Tindakan Preventif untuk Mencegah Adanya Munculnya Kasus Pergaulan Bebas

            Cara-cara / upaya pencegahan pergaulan bebas akan terwujud jika kita melakukan upaya-upaya sebagai berikut :

1.     Bagi Orang Tua

            Sebaiknya orang tua lebih memperhatikan anaknya. Serta memberipengarahan tentang cara bergaul. Orang tua harus bisa menjadi teman, agar anakdapat terbuka dan anak dapat menjadikan orang tua sebagai seorang sahabat terpercaya.

2.     Para Pendidik (Guru)

            Memberi gambaran bahwa, cukup banyak permasalahan tentang salah pergaulan yang timbul diantara remaja. Oleh sebab itu konsultasi dan penyuluhan tentang pergaulan yang baik dan benar sangat diperlukan, dan kegiatan ini dapat berjalan dengan bantuan seorang guru.

3.     Para Remaja

            Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana remaja dapat menempatkandirinya sebagai remaja yang baik dan benar sesuai tuntutan dan norma yangberlaku di dalam masyarakat. Agar kita dapat menjadi remaja yang baik dan agarkita bisa menciptakan Negara dan bangsa yang sukses.

4.     Pemerintah

            Peran pemerintah sangat penting untuk mencegah para pelajar dan anak-anak melakukan pergaulan bebas. Pemerintah wajib membangun sarana dan prasarana untuk pelajar dan anak-anak. Pemerintah juga wajib membuat beragam kegiatan untuk menyalurkan keahlian dan bakat para pelajar dan anak-anak. Pemerintah juga harus membuat aturan yang tegas untuk tempat-tempat yang hanya boleh dikunjungi orang dewasa. Misalnya, harus dibuat aturan untuk pelajar dan anak-anak yang mengunjungi warnet, buoskop, kafe, atau diskotik. Diperlukan juga kesadaran lingkungan, yakni masyarakat dan pemilik tempat untuk melarang pelajar dan anak-anak mengunjungi tempat-tempat orang dewasa

2.6 Hubungan Perilaku Pergaulan Bebas dengan Nilai-Nilai Pancasila

    Pandangan hidup bangsa adalah kristalisasi nilai-nilai yang diyakini kebenarannya maupun manfaatnya oleh suatu bangsa sehingga darinya mampu menumbuhkan tekad untuk mewujudkannya di dalam sikap hidup sehari-hari. Setiap bangsa di mana pun pasti selalu mempunyai pedoman sikap hidup yang dijadikan acuan di dalam hidup bermasyarakat. Demikian juga dengan bangsa Indonesia. Bagi bangsa Indonesia, sikap hidup yang diyakini kebenarannya tersebut bernama Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung di dalam sila-sila Pancasila tersebut berasal dari budaya masyarakat bangsa Indonesia sendiri. Oleh karena itu, Pancasila sebagai inti dari nilai-nilai budaya Indonesia maka Pancasila dapat disebut sebagai cita-cita moral bangsa Indonesia. Cita-cita moral inilah yang kemudian memberikan pedoman, pegangan atau kekuatan rohaniah kepada bangsa Indonesia di dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila di samping merupakan cita-cita moral bagi bangsa Indonesia, juga sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia

    Seiring dengan berjalannya waktu dan jaman yang cepat sekali berubah, seakan-akan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam pancasila yang merupakan pedoman hidup bagi rakyat Indonesia telah dilupakan begitu saja. Banyak kegiatan yan berhubungan dengan penyimpangan nilai-nilai moral yang terkandung dalam pancasila. Misalnya saka perilaku seks bebas yang telah menjamur dan seakan-akan membudaya dalam lingkungan masyarakat. Perilaku ini jelas sangat bertentangan dengan sila-sila yang terkandung dalam pancasila, utamanya bersangkutan dengan sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, adalah pembentukan suatu kesadaran tentang keteraturan, sebagai asas kehidupan, sebab setiap manusia mempunyai potensi untuk menjadi manusia sempurna, yaitu manusia yang beradab. Manusia yang maju peradabannya tentu lebih mudah menerima kebenaran dengan tulus, lebih mungkin untuk mengikuti tata cara dan pola kehidupan masyarakat yang teratur, dan mengenal hukum universal. Ketidaksadaran masyarakat mengenai nilai luhur yang terkandung dalam tiap-tiap butir pancasila inilah yang menjadikan semangat membangun kehidupan masyarakat telah sirna dan tidak sama sekali dipikirkan lagi oleh kebanyakan masyarakat kita, selain itu maksud dan tujuan yang terkandung dalam butir kedua pancasila tidak dapat diimplementasikan dalam bentuk sikap hidup yang harmoni penuh toleransi dan damai. 

             

BAB III

PENUTUP


3.1 Kesimpulan

            Seks bebas sudah menjadi hal yang tidak tabu lagi bagi kalangan remaja di indonesia. Kegiatan seks bukan hanya dilakukan oleh pasangan yang sah menurut agama dan hukum yang berlakuakan tetapai juga dilakukan oleh para pelajar, masa sekarang ini cenderung lebih mengutamakan pacaran dan kebutuhannya yang lain daripada menuntut ilmu. Mereka tidak lagi tenggelam dalam pelajaran akan tetapi sudah tenggelam dalam lautan asmara yang mereka namakan cinta. Terjadinya seks bebas di kalangan pelajar remaja dikarenakan banyak faktor yang paling utama adalah pesatnya perkembangan jaman. hal tersebut membuat pergaulan menjadi bebas, sehingga banyak remaja dan mahsiswa yang bergaul tanpa batasan dan etika. Salah satu contohnya dalam berpacaran. Para remaja dan mahasiswa berpacaran tidak mempunyai batasan serta etika sehingga dalam berpacaran lebih banyak dampak negatie dibandingkan dampak positif seperti halnya seks bebas. Persepsi yang salah tentang seks bebas menyebabkan mereka berfikir bahwa melalui seks bebaslah tersalurnya cinta dan kasih sayang. Pergaulan remaja yang bebas sebenarnya dikarenakan oleh segala macam perkembangan yang disalah artikan oleh remaja itu sendiri maupun lingkungannya. Seks bebas menyebabkan pararemaja kehilangan bangku sekolahnya, sama halnya juga para mahsiswaa yang terpaksa berhentikuliah karna hamil diluar nikah. Selain itu, hamil diluar nikah dapat berujung pada pengguguran janin, baik melalui aborsi ataupun bunuh diri karena tidak siapnya menerima kenyataan hamil diluar nikah tersebut. Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana remaja dapat menempatkan dirinya sebagairemaja yang baik dan benar sesuai dengan tuntutan agama dan norma yang berlaku di dalam masyarakat serta dituntut peran serta orangtua dalam memperhatikan tingkah laku dalamkehidupan sehari-hari anaknya, memberikan pendidikan agama, memberikan pendidikan seks yang benar. oleh sebab itu permasalahan ini merupakan tugas seluruh elemen bangsa tanpa terkecuali. Usaha untuk pencegahan sudah semestinya terus dilakukan untuk menyelamatkan generasi muda kita. Agar lebih bermoral agar lebih bisa diandalkan untuk kebaikan negara kedepan.


3.2 Saran

1.     Bagi Pelajar SMP di Kabupaten Wonogiri

            Masa remaja adalah masa yang labil sehingga perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak terkait dengan perilaku seks bebas. Dukungan ini bisa diperoleh dari keluarga terutama orang tua dan teman-teman yang ada di sekitarnya. Sebaiknya remaja lebih dekat dengan keluarga dan dalam bergaul hendaknya memilih teman yang dapat mengarahkan pada pergaulan yang wajar. Orangtua adalah orang yang sepatutnya kita hormati dan dengarkan nasehatnya. Memilih teman yang baik merupakan salah satu cara menghindari pergaulan bebas.

2.     Bagi Orangtua Pelajar SMP di Kabupaten Wonogiri

            Kurangnya perhatian serta lemahnya pengawasan orangtua terhadap aktifitas remaja menjadi hal penting dalam hubungan seks bebas dikalangan remaja. Sehingga, orangtua hendaknya lebih memperhatikan pergaulan remaja. Penerapan pendidikan agama di rumah merupakan salah satu cara untuk memfilter anak agar mereka terhindar dari pergaulan bebas di luar. Orangtua sebaiknya memberikan informasi terkait seks dan reproduksinya secara tepat.

3.     Pihak Sekolah SMP di Kabupaten Wonogiri

            Institusi pendidikan lebih memperhatikan peserta didiknya terkait masalah disiplin, pendidikan kesehatan reproduksi remaja dan pencegahan perilaku seksual dengan mengalihkan kepada kegiatan ekstrakurikuler yang positif.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Anang Haris Himawan. 2007. Bukan Salah Tuhan Mengazab, Solo: Tiga Serangkai.

Asep Kurnia Nenggala. 2006. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.

Bandung: PT Grafindo Media Pratama.

Hasan Basri. 2000.      Remaja Berkualitas Problematika Remaja dan

Solusinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Herlina Martono, 1981, Brberapa Usaha Pencegahan dalam Penaggulangan Problem        Seksualitas dan Fertilitas Remaja, Jakarta: Cv Raja Wali.

Sidik Hasan & Abu Nasma. 2008. Let’s Talk About Love. Solo: Tiga Serangkai.

Umar Sidik, 2017, Musuh-Musuh Pelajar, Yogyakarta: Kementrian Pendidikan dan           Kebudayaan

https://www.jambiekspres.co.id/read/2022/02/08/53593/kejadian-heboh-di-wonogiri-siswi-smp-ngaku-berhubungan-seks-dengan-7-bocah/

 

Komentar